Blog
Masalah Kebocoran Data Tak Kunjung Sembuh di Indonesia, Mengapa?

Masalah Kebocoran Data Tak Kunjung Sembuh di Indonesia, Mengapa?

Masalah kebocoran data di Indonesia sudah seperti penyakit kronis yang tak kunjung sembuh. Di forum diskusi bahkan hingga pasar gelap, ratusan data diperjualbelikan bahkan dibagikan secara gratis.

Kebocoran data tidak hanya dialami oleh sebuah perusahaan, tetapi juga oleh instansi pemerintah. Biasanya, mencakup data pribadi seperti foto, nama lengkap, nomor induk kependudukan (NIK), jabatan, akte kelahiran, dan ijazah.

Kasus kebocoran data yang dijelaskan di atas merupakan indikasi keamanan siber Indonesia yang masih lemah. Menurut data NCSI (National Cyber Security Index) Cyber Security Index Indonesia menempati peringkat 83 dari 160 negara dalam hal keamanan siber. Indonesia memiliki skor indeks keamanan siber 38,96 dan skor tingkat pengembangan digital 46,84. Lalu apa yang menyebabkan terjadinya kebocoran data?

3 Penyebab Utama Terjadinya Kebocoran Data

1. Human Error

Contohnya seperti karyawan yang secara tidak sengaja mengirim atau memposting informasi sensitif secara online. Atau sekedar mengklik tombol “balas semua” di email dengan ratusan penerima saat mengirimkan informasi sensitif.

Kasus semacam ini juga bisa terjadi ketika programmer membuat database yang dapat diakses oleh publik dan mesin pencari,maka informasi rahasia perusahaan akan bocor, dan siapa pun akan dapat mengaksesnya hingga database dikunci kembali. Saat kesalahan ini terjadi, mereka yang mencoba meretas sistem perusahaan akan mencetak informasi rahasia untuk digunakan di masa mendatang.

Bahkan jika terjadi secara tidak sengaja, semua kebocoran data dapat mengakibatkan hukuman yang sama dan merusak reputasi.

2. Malware

Malware (Malicious Software) adalah program yang dirancang untuk menyusup dan merusak sistem komputer. Penyusupan tersebut bisa masuk melalui email, unduhan Internet, atau program yang terinfeksi.

Baca juga: 5 Jenis Malware yang Bisa Menyerang Keamanan Data Anda!

Selain menyebabkan kerusakan pada sistem komputer, malware juga dapat memungkinkan terjadinya pencurian data sensitif perusahaan. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati saat mengunjungi situs web yang mencurigakan atau membuka email dari pengirim yang tidak dikenal. Karena keduanya adalah metode paling umum untuk menyebarkan malware, sehingga data security menjadi rentan dan dapat bocor.

3. Social Engineering

Hal ini seperti penggunaan manipulasi psikologis untuk mengumpulkan informasi sensitif seperti nama lengkap, username, password, dan sebagainya melalui media elektronik dengan menyamar sebagai pihak yang dapat dipercaya.

Biasanya, phishing menggunakan email untuk menipu targetnya. Email pelaku mungkin tampak dikirim dengan mengatasnamakan pihak tertentu untuk membujuk korban agar mengklik tautan tersebut. Namun saat ini sudah merambah ke aplikasi perpesanan, termasuk pengiriman pesan dengan tautan jahat yang dapat mencuri data Anda.

Baca juga: WhatsApp Jadi Aplikasi Favorit Penjahat Siber Kirimkan Phising

Kini Anda tidak perlu khawatir lagi! Exicitium hadir menawarkan teknologi tanpa ancaman malware yang terintegrasi secara mulus dengan produk EDR dan MDR dari SecureTasks Indonesia untuk menyediakan virtualisasi tanpa pelanggaran pada endpoint sambil melakukan pemantauan ancaman berkelanjutan secara real time dan proaktif. Kunjungi website SecureTasks.co.id untuk mendapatkan percobaan gratis selama 1 bulan, sekarang juga!